"The show must go on"
Everything has been prepared, but how I place myself?
And everybody is waiting, but how I leave this fright?
Do you feel your heart's beating, just like the way I feel?
Do you feel your body's shaking, just like the way I feel?
Hoping for the best and do the best we can. coz we can't wait any longer
Giving all we have and leave all the things behind
Coz we know..
The show must go on! Like what we have planned
The show must go on! It can't be delayed
"The Maze"
I've tried to find out what scene's figured out
When we met that rainny night
You seemed so weary and crowned with devoid
Wishing a blade of light to come
The rain has fallen through an empty street
Drowning the viewless moonshines
Then you stood by me at a higher sideway
Trembling down the drying leaves
I can't find you there
When the rain's falling again
You have gone away before I know your deepest thoughts
Leaving me under this loneliness
You have gone away when I realized you're just a dream
Breaking me against the curfew wall
"Untitled"
My life's being frozen..
by the cold wind which blows inside my heart
Will I get through this faint without my dignity and all faith?
My dreams turn into nightmares..
I have looked at life from both sides now
Send me a guardian angel if you're not only a dream in my sleep
Les you leave me..
where will I hide my sorrow?
Hold me in and never let go..
and ged rid me away from this maze
And all my dreams in this life turn into nightmares in an endless night..
Senin, 26 Maret 2012
Minggu, 25 Maret 2012
Pohon Waru di tepi kali
Pohon Waru di tepi kali..
Membawaku ke suatu memori
Saat rindang teduhmu masih menaungi
Pohon Waru di tepi kali..
Dahanmu yang menjulur menggapai tengah tengah kali
Dulu tanpa rasa ngeri kupanjati
Kuandaikan pesawatku yang melang-lang terbang tinggi
Kujadikan papan tumpuanku terjun ke kali
Pohon Waru di tepi kali..
Bunga-bunga kuning-jinggamu memang tak'kan pernah mewangi
Namun kenangan tentangmu selalu mengajakku kembali
Pohon Waru di tepi kali..
Di kakimu dulu aku belajar memainkan bidak-bidak catur,
membasuh tubuhku mandi di kali,
atau sekedar melabuh letih di sore hari
Di kakimu kali mengalun entah kemana berujung tepi
Yang kala itu airnya jernih menghijau hingga kini kian menghitam terpolusi
Pohon Waru di tepi kali..
Kian melapuk termakan hari dan berakhir roboh ke kali
Menyadarkanku kelak juga kan mati
Pohon Waru di tepi kali..
Kini hanya anganku yang menjelma puitis..
[Pinggiran Kali Pusur, 26 Maret 2012]
Jumat, 30 September 2011
Tentang Kau & Asa..
Jika kau sempat..
by Ophets Petrush Cannisius on Wednesday, June 1, 2011 at 6:14pm
Jika kau sempat menatap ufuk barat kala senja
Kan kau dapati rona jingga
Menjadi busur panah bumi
Yang 'kan melesatkan bermilyar-milyar mimpi ke angkasa
Di malam yang terjelang setelahnya..
Jika kau sempat menatap ufuk timur kala fajar
Kan kau temui rona merah
Menyalakan Cahaya Hari
Yang 'kan menghidupkan bermilyar-milyar asa
Yang belum juga surut mengikuti kata hati..
"Matahari"
by Ophets Petrush Cannisius on Friday, April 8, 2011 at 8:52am
Aku adalah Matahari..
Aku akan selalu mengarahkan pandang dan langkahku ke ufuk barat bumi..
Karena aku mengerti perjalananku tak hanya berujung disitu..
Aku adalah Matahari..
Aku takkan pernah lelah mengikuti jejak Rembulan meski Bumi tak bergeming menghalangiku..
Karena aku mengerti tanpa hadirku, Rembulan & Bintang2 tak kan mampu mengindahkan damainya malam..
Aku adalah Matahari..
Aku harus tetap bersinar..
[untuk satu kehidupan]
Senyawaku..
by Ophets Petrush Cannisius on Sunday, May 29, 2011 at 8:54pm
Senyawaku adalah waktu yang bermula dan berputar tanpa jeda
Bukan sejarah yang hilang terlupa..
Senyawaku adalah alam tanpa sekat
Senyawaku adalah alam tanpa sekat
Bukan ruang beku berdinding sempit..
Senyawaku adalah keberadaan
Senyawaku adalah keberadaan
Bukan ketiadaan..
Senyawaku adalah mimpi-mimpi
Senyawaku adalah mimpi-mimpi
Bukan asa yang hilang terserak..
Senyawaku adalah nyanyian kehidupan
Senyawaku adalah nyanyian kehidupan
Bukan sesumbar keangkuhan..
Senin, 13 Juni 2011
Thursday, May 19, 2011 at 4:22pm
Tiba-tiba teringat tentang suatu tempat di salah satu sudut kota ini. Suatu ruangan dua lantai berukuran sekitar 4x4 m2. Lantai dasar menjadi ruang tidur sekaligus ruang makan dan ruang TV, sedangkan lantai atas menjadi gudang dan tempat menggantung pakaian jemuran berlantai kayu jati (loteng) berjendela satu mengarah ke timur. Aku bisa melihat kemegahan Mesjid Agung kebanggaan Kota Solo dari jendela itu..
Sebenarnya ruangan itu merupakan Ruko yang dialih-fungsikan menjadi tempat tinggal sepasang Kakek-Nenek ( Nenek itu Mbakyu dari Mbah Putriku). Berada di sudut suatu ruangan besar yang menjadi tempat Penitipan Sepeda terbesar di daerah itu pada masanya, dimana Mbah Kakung yang menjadi Kepala Penjaganya. Sedangkan Mbah Putri membawahi sebuah Rumah Makan di Terminal Tirtonadi (mereka berdua menjadi tangan kanan kepercayaan Juragannya). Satu tempat yang berada di pojok barat laut perempatan barat Pasar Klewer. Keluargaku sering menghabiskan waktu liburan sekolah TK-SMP di tempat itu. Berkunjung ke tempat mereka menjadi agenda menyenangkan bagiku tentunya. Semoga bagi mereka berdua juga, mengingat mereka tidak dikaruniai putra dan tentunya tidak bercucu. Nongkrong di depan Penitipan Sepeda, menyaksikan lalu-lalang kendaraan dan manusia kota selalu menarik bagiku..
Hhhh... tanpa terasa sudah berpuluh tahun kenangan itu berlalu. Namun aku masih sangat mengenali aroma ruangan itu, yang nyaris pengap di tengah bisingnya kota masih sangat mengenali teh yang dulu kuanggap berasa "kota", tapi belakangan kutahu ternyata "kaporit" yang membuatnya terasa beda. Ditambah dengan beragam menu lezat tersaji di meja makan dan masih banyak jajanan lain menunggu dijemput di sekitaran Pasar Klewer. Hmm.. berasa di surga kecil bagiku kala itu..
Mbah Kakung lebih dulu meninggal. Sepeninggal suaminya itu, Mbah Putri menjadi seperti orang yang kebingungan. Mungkin lebih mudah jika diistilahkan mulai "pikun". Mulai lupa dimana menaruh barang dan hartanya, mulai ngga' nyambung jika diajak bercakap-cakap, bahkan mulai sedikit demi sedikit melupakan wajah-wajah kami. Hingga beberapa tahun kemudian beliau diasuh di rumah Mbah Lik (adiknya yg terkecil yang juga adiknya Mbah Putriku)
Akhirnya beliau menghabiskan saat terakhirnya jauh dari bisingnya Kota Solo di sebuah kota kecil Delanggu, di rumah keluargaku, karena saat itu Mbah Lik dan istrinya juga mulai kewalahan merawatnya dan mereka juga mulai sakit-sakitan. Beliau dirawat ibuku hingga saatnya beliau menyusul suaminya ke alam kekal..
Saat ini aku sungguh-sungguh merindukan mereka berdua.. doaku selalu teriring..
[Thursday, May 19, 2011 at 4:22pm|suatu sore di sudut Kota Solo]
Jumat, 10 Juni 2011
Tentang PINTU
PINTU..
Pintu adalah suatu katup penyekat yang digunakan untuk membatasi bagian dalam ruang dengan bagian luar ruang, atau untuk menghubungkan ruang satu dengan ruang yang lainnya..
Ada pintu yang terbuat dari bahan yang mudah rapuh, namun ada juga yang terbuat dari bahan terkuat yang pernah ada di dunia..
Setiap pintu memiliki beragam cara untuk membukanya..
Ada pintu yang dibuka dengan cara ditarik ke belakang, didorong ke depan, digeser ke samping, diangkat ke atas, atau ditekan ke bawah..
Ada pintu yang bisa dengan mudah dibuka, namun ada juga pintu yang tidak bisa dibuka dengan mudah, karena memerlukan cara tersendiri, kunci khusus, kode rahasia, atau bahkan dengan sandi tertentu..
Namun yang terpasti, dari awal mula manusia menciptakannya, semua pintu pasti dibuat untuk bisa dibuka kembali..
"Semakin rapat dan semakin kuat suatu pintu, biasanya menandakan semakin bernilai dan berharga sesuatu di sebaliknya.."
Bagaimana kalau sekarang kita mengganti kata "PINTU" dengan kata "KESEMPATAN"?
Semoga kita bisa mensikapi setiap KESEMPATAN sama halnya ketika kita menghadapi setiap PINTU di depan kita..
Meyakinkan diri bahwa setiap PINTU pasti bisa DIBUKA..
Bukankah berarti tinggal sebagaimana jerih payah kita menemukan cara khusus, kunci tersendiri, kode rahasia, atau sandi tertentu?
Senin, 02 Mei 2011
Hanya Tentang Kaos..
Kaos????

Ya... hanya sekedar mengamati, kemudian ingin mencoba bercerita (sedikit saja) mengenai kaos..
Mungkin jarang teramati oleh kita tentang pemakaian kaos yang juga kita kenali sebagai T-Shirt. Hal yang menarik disini bahwa ternyata ada sisi-sisi yang sepertinya bisa menjadi bahan permenungan kita bersama.. semoga..
Mungkin jarang teramati oleh kita tentang pemakaian kaos yang juga kita kenali sebagai T-Shirt. Hal yang menarik disini bahwa ternyata ada sisi-sisi yang sepertinya bisa menjadi bahan permenungan kita bersama.. semoga..
Pertama; Tentang alasan kenyamanan pemakaiannya..
Memang menurut pendapat saya, kaos adalah baju ternyaman nomor 1 sedunia (he2 kalo ada yang ngga' setuju boleh protes kok..) karena bahannya yang nyaman di badan dan modelnya yang ngga' pernah kuno dan selalu up to date, maka dari anak-anak kecil sampai kakek-nenek pun memakainya..
Kedua; Tentang pemilihan warnanya..
Semua orang pasti memiliki selera yang beragam juga mengenai warna kaos, dan pasti jarang sekali yang tiba-tiba mau mengenakan kaos dengan warna yang bukan favoritnya. Sebagai contoh sebagian besar kaum pria cenderung menyukai warna-warna gelap dan sebagian besar kaum perempuan lebih menyukai warna-warna soft (dan itupun ternyata juga tidak berlaku mutlak...ckckckck!)
Semua orang pasti memiliki selera yang beragam juga mengenai warna kaos, dan pasti jarang sekali yang tiba-tiba mau mengenakan kaos dengan warna yang bukan favoritnya. Sebagai contoh sebagian besar kaum pria cenderung menyukai warna-warna gelap dan sebagian besar kaum perempuan lebih menyukai warna-warna soft (dan itupun ternyata juga tidak berlaku mutlak...ckckckck!)
Ketiga; Tentang pertimbangan design-nya..
Nah! Kalo yang ini biasanya anak-anak muda paling ribet, nich!
Nah! Kalo yang ini biasanya anak-anak muda paling ribet, nich!
Ada yang bener-bener memilih dengan teliti gambar atau tulisan apa yang tertera di kaosnya karena mereka sudah beranggapan bahwa "You are what you wear". Mereka berpendapat bahwa warna kaos dan design-nya adalah ciri khas yang sudah menjadi identitasnya. Misalnya saja penggemar berat sepakbola, biasanya lebih menyukai kaos yang bertemakan klub sepakbola favoritnya. Para groupiest pun pasti memilih mengenakan kaos yang bergambar logo band atau pemain band idolanya. Ada yang lebih menyukai kaos yang bener-bener polos tanpa gambar apapun. Tapi ada juga yang bener-bener cuek dan ngga' mau ambil pusing mengenai kaos model apa dan yang bertuliskan pun bergambar apa, yang terpenting kaos.. itu saja! Entah berisi iklan, gambar lambang partai, atau apapun.(misalnya bapak2 tani yang suka macul di sawah itu lho.. he2)

Hmm.. Kaos..kaos..dan hanya kaos..
Sebenarnya intisari yang ingin saya sampaikan hanya sederhana saja kok..
Ternyata bahkan hanya dari sekedar kaos saja kita bisa mengetahui banyak sekali motivasi pemakaiannya. Semoga dari situ bisa terpetik satu pemikiran
betapa beragamnya manusia-manusia dunia ini.
betapa beragamnya manusia-manusia dunia ini.
Sebagai bahan permenungan kita..
Pasti ada alasan mengapa kita diciptakan'Nya dengan segala perbedaan..
Apakah salah jika kita yang bahkan dari awal sudah diciptakan berbeda-beda?
Pasti ada alasan mengapa kita diciptakan'Nya dengan segala perbedaan..
Apakah salah jika kita yang bahkan dari awal sudah diciptakan berbeda-beda?
Kamis, 10 Februari 2011
"Tentang Aku & S.E.A Theatre.."
Yang kurasakan pada masa-masa itu..
Yang kukenang tentang setiap peristiwa yang kualami..
Yang akan kurindukan mulai detik ini juga..
Ketika aku bebas melakukan segala sesuatu yang semula kuanggap hanya sebatas anganku..
(Berproses, latihan, berkreasi, berpentas, demam panggung, disaksikan banyak orang)
Ketika ternyata aku mampu melakukan apa saja yang tak pernah kusadari sebelumnya..
(Main cello gesek, main biola, main perkusi, main bass akustik/elektrik, menulis lirik lagu, menciptakan lagu, mengaransemen lagu, berpuisi, berakting, "bercas-cis-cus" in English ofcourse, membuat set pentas, bahkan sempat menjadi sutradara "kacangan" juga..he2)
Ketika ternyata keterbatasan justru memicu kreatifitas kita..
(Saat kawat "bendrat" menjadi pengikat multifungsi, kardus dan sak semen beradu menjadi set panggung, bangku kuliah usang menjadi "bancik", sekat aula gedung E "mrotholi" satu-persatu menjadi kusen pintu panggung, bambu dan papan "klepto" proyek gedung sebelah menjadi properti pentas, bahkan kain spanduk dan karung goni pun menjadi kostum pemain)
Ketika aku bersahabat dengan suatu kebersamaan yang begitu erat dan akrab dalam segala hitam-putihnya..
(Saat latihan bareng hingga titik jenuh "akut", "nge'Hik" bareng di sela jadwal latihan, mengenal dan belajar memahami beragam karakter kita masing2, beradu argumen dalam rapat kepanitiaan/ pengurus/ produksi, terpontang-panting nyari sponsor dan donatur, "bergaul" dengan para birokrat kampus, bertukar ide kreatif mengenai setting pentas, berakrab dengan saudara2 teater lain sambil mencari referensi pinjaman alat pentas tentunya, berpetualang menyebar pamflet dan memasang spanduk di seantero kampus dan sudut2 kota, tidur di areal lapangan parkir kampus, menyatukan genggaman tangan dan meneriakkan yel2 pengobar semangat, melampiskan emosi sampai "misuh2" bareng, bahkan terkadang tanpa sadar menunjukkan sisi "cengeng" kita dengan tiba2 menangis tanpa sebab pasti..hiks)
Dan aku masih membawa rasa bangga semasa menjadi bagian kebersamaan itu hingga kini..
Dan segala kenangan itu kini terbingkai indah menghias salah satu sudut hatiku..
Dan kerinduanku akan senatiasa menjadi ungkapan terimakasihku yang mengalir tanpa henti mulai detik ini juga..
[From "Riders to the Sea" story 'till "Can't Pay? Won't Pay" story | 2003-2010]
Langganan:
Postingan (Atom)













